Monday, December 4, 2006

810

Aku masih di rumah saat itu. Masih satu jam lagi, sebelum berangkat ke kantor. Namun ponselku berbunyi, nampak nomer G di ponselku.

Taruna Kang?”
(Taruna adalah bahasa sandi polisi yang berarti informasi)
Merapat ke Polsek.....ada yang mau kita 810!”
Oke Kang!”

Ini pengalaman pertamaku di bagian kriminal, diajak untuk meliput eksekusi mati seorang penjahat. 810 adalah kode polisi yang berarti mati. Tidak hanya untuk manusia, jika baterai handy talky mereka habis, mereka juga akan mengatakan 810.
Buru-buru aku bersiap ke kantor, tidak lupa menelefon kamerewan yang dipasangkan denganku malam itu

Halo bos, bisa datang cepat? Ada taruna di Tangerang, harus nyampe jam 9 disana
Oke, gak masalah, ketemu di logistik aja ya

***

Jam 9 kurang 5 menit kami tiba di polsek itu. G sedang duduk di halaman. Atasan G, GH, berpangkat Inspektur Dua, sedang mempersiapkan pistol revolvernya.

Kang, siapa ni yang mau di 810?” tanyaku kepada G
Rampok. 3 hari lalu rampok motor. Pemiliknya tewas, ia tebas pake celurit. Ini bukan yang pertama. Mending di 810 aja lah” jawab GH mendahului G.
Boleh ketemu gak?”
”Tuh di sel. Tapi jangan diambil gambarnya ya, ngobrol-ngobrol aja
.”
Oke ces” (Ces adalah panggilan akrab sesama teman di Makassar)

***

Tidak ada yang bisa membuat orang takut. Perawakannya kurus, dan wajah yang nampak lugu. Satu-satunya yang bisa mewakili perilakunya adalah tato di lengan sebelah kanan. Aku tak bisa dengan jelas melihat gambar tatonya. Sel tanpa lampu. Hanya terbantu oleh cahaya dari teras belakang Polsek. Ia nampak tidak berdaya. Aku sempat tidak percaya, bahwa yang di depanku adalah seorang perampok berdarah dingin, yang tidak segan-segan menebas leher orang dengan cerulit atau golok.
Ada perasaan aneh di dalam diriku. Pengetahuan tentang kematian. Ini pertama kalinya, aku bisa mengetahui manusia yang akan mati tidak lama lagi. Kematian adalah rahasia langit, yang hanya diketahui oleh Penciptanya. Aku berhadapan dengan kematian yang menjelang, kematian yang tidak ’prosedural’. Kematian yang diciptakan oleh manusia yang juga tidak pernah tahu kapan Ia mati.

Abang kapan tertangkap?”
Ia hanya terdiam
Eee...Abang nyesel gak sudah membunuh orang?”
Iya” jawabnya pelan
Abang punya anak istri?”
Iya kembali mengangguk pelan.

Perlahan ia nampak berusaha berganti posisi. Tapi tiap gerakannya disertai suara meringis, dan mimik muka pesakitan. Betis sebelah kirinya ada perban. Di sekitarnya nampak darah yang baru mengering. Luka tembakan buser tadi sore, tembus mengenai tulang.
Ingin sebenarnya mengobrol lebih lama, namun rasanya aku kehilangan selera.

***

Iring-iringan mobil kami menuju sebuah tempat gelap dan sepi. Aku tegang.
Kami pun turun. GH menghampiri kami. Ia nampak gagah, sekaligus nampak seperti aktor-aktor di film-film cowboy. Di sampingnya, 5 buser telah siap dengan laras panjang SS1 dan pistol jenis revolver.
Persis seperti sutradara, ia mengarahkan pengambilan gambar.

Kameramen nanti berdiri dibelakang. Nanti kita pura-pura lari, sambil menembak ke atas.Nah lu juga lari, sambil ngambil gambar, biar seperti kita sedang mengejar penjahat. Oke bos?” kata GH bak malaikat penjabut nyawa
Siap!” kata para kameramen, persis seperti anak buah kepada komandannya

Si perampokpun digiring ke depan. Borgolnya dilepas. Ia berjalan tertatih-tatih menahan sakit menembus tulang.
Dalam hitungan detik, drama itupun bergerak cepat.

Dor....Dor...Dor...

Bising letusan memekakkan telinga, merusak malam yang dingin dan damai.
Seonggok tubuh kurus tergelatak. Sebuah lubang nampak tepat di dadanya. Nyawanya tinggal setengah. Malaikat pencabut nyawa tengah menjalankan tugasnya, bersamaan dengan bunyi dengkurnya, yang perlahan menghilang bersama malam yang kembali sepi.
Sebuah lagu Billie Holiday, ”Body and Soul” mengalun pelan, menutup kisah getir malam itu.

***
Pukul 12.35 siang, di depan sebuah warung mi rebus, beberapa tukang ojek nampak serius menonton program berita kriminal.
Sepenggal berita berbunyi : ”Seorang perampok berdarah dingin, minggu malam, di Tangerang, tewas diterjang peluru polisi, saat berusaha lari....”
(berdasarkan kisah nyata)
Dio, Tangerang, 2003

2 comments:

Lia Iris said...

Pengalaman pertama jikalau berkaitan dengan sebuah pekerjaan yang sangat kita impikan tentu saja tak kan pernah terlupakan. Seperti yang dialami seorang novelis atau komikus, saat pertama kali buah pikirnya terbit, bertengger anggun di rak buku sebuah toko buku berdampingan dengan novelis ternama lainnya. Sungguh terharu dan tak percaya, puji syukur terus berdesis, karena sebuah pencapaian yang butuh dukungan dari banyak pihak.

Terus berkarya ya Mas.
Jangan pernah puas, terus menambah ilmu dan pengalaman, diiringi dengan tak putus untuk bersyukur.

Gambatte ne !
Keep your chin up !

:)

nie said...

Ohhh :(

Tulis jadi novel, Mas.