Sunday, December 3, 2006

Dari Sebuah Restoran

Kumasukkan sesendok nasi terkahir ke dalam mulutku, menutupi sisa ruang di dalam perutku. Mulai dari segelas orange juice yang lucu, donat yang tidak berdosa, semangkok sereal yang tak berdaya, lalu beralih ke hidangan utama nasi goreng yang pasrah, lengkap dengan sosis, ayam, dan sebuah telur ceplok setengah matang yang nampak lugu, tanpa ampun, kulumat dan kuhabiskan tanpa basa-basi. Sebuah buku tebal berjudul Transpolitika, karya Yasraf A. Piliang, tergeletak, terlupakan, dikalahkan oleh aroma dan wujud makanan di atas meja.

Saat tanganku mulai bergerak menyentuh buku di atas meja, mendadak niatan itu batal oleh sebuah pemandangan biasa. Kembali sang buku terasing. Seorang lelaki makmur, perut buncit, dan terlihat sangat kaya duduk di depan meja saya. Wajahnya nampak berseri-seri. Dua buah ponsel jenis PDA dan communicator Ia letakkan di samping piringnya. Mungkin ia 5o tahunan. Di depannya duduk perempuan muda, dengan bercelana pendek ketat, baju ketat tanpa lengan. Ia dianugrahi tubuh yang besar di bagian yang seharusnya besar, dan ramping di bagian yang seharusnya ramping. Modis, mahal, dan sekaligus menor oleh lipstik merah menyala, kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Mungkin Ia 2o tahun. Tidak jelek, namun tidak juga luar biasa. Otakku yang sedang iseng akibat kekenyangan, lalu mengembara, menganalisa dua mahluk di depanku. Siapa dua orang ini? Suami istri? kayaknya aku ragu. Tapi kalo selingkuh, kenapa berani di tempat umum seperti ini?

Pikiranku kembali mengembara. Video rekaman seorang politisi dan seorang yang konon penyanyi dangdut--yang aku nonton semalam bersama teman-teman--menguasai lamunanku. Politisi itu tanpa sehelai benang pun, dengan perutnya yang buncit, dan si perempuan terbaring siap 'tempur'. Selanjutnya, seperti sebuah filler di paket berita, gambar dua pasang mahluk di depanku berganti dengan cepat dengan gambar video mesum itu, dan berganti lagi, lalu berganti lagi tiap dua detik.

Lamunan liar itu, mendadak terhenti, saat terasa sebuah tangan menyentuh bahuku sebelah kiri. "Ke atas yuk, sudah jam 9..."

"Duluan deh, gue makan buah dulu..."

Hotel Santika, 3 November 2006

1 comments:

putri said...

buseeet, ga brenti2 ni makannya...