
Dahulu kala, kami tinggal di sebuah rumah dinas yang tidak terlalu besar, namun punya halaman yang sangat luas. Di depannya ada dua pohon mangga, jenis Arumanis, persis di depan kamar tidur Mama’ dan Bapa’. Dan satu lagi mangga Banyakpapan. Sedangkan di halaman belakang, ada 3 pohon mangga yang besar-besar. Ada Mangga Kanrejawa dan Golek. Kanrajewa berarti kue dalam bahasa Makassar.Bentuknya bulat seperti bentuk mangga pada umumnya. Seorang pelatih tennis yang sering jadi langganan ibu-ibu kompleks membersihkan pekarangan atau mengangkat barang-barang, Dullah namanya, enggan menyebutnya Kanrejawa, melainkan mangga kue. Golek, bukan bahasa Makassar maupun Bugis. Mungkin, karena ibu Mama’ku berasal dari Surabaya, mangga itu dinamakan golek, yang berarti boneka, sesuai bentuknya yang memanjang. Belakangan baru saya ketahui, Golek ternyata sudah menjadi nama nasional, bukan pemberian nama oleh Mama' ku.
Sesuai urutan umur kami bersaudara, Pohon terbesar, yakni mangga Kanrejawa, tanpa perjanjian di atas materai dan tanpa pertengkaran, menjadi milik kakak-ku yang tertua : Anita Syafitri. Konon, Mangga ini menjadi milliknya karena Ia sangat suka dengan karakter dahannya yang mudah untuk dipanjati. Beberapakali Aku menemukan dia sedang membaca di atas pohon. Ia dan Fifi Angraini kakakku, adalah anggota keluarga kami yang cukup mahir memanjat, walaupun memang pernah tragedi menimpa Kak Ita (panggilan Anita Syafitri), sukses memanjat pohon, namun tidak bisa turun.
Pohon kedua, yakni pohon mangga Kanrejawa, milik kakak-ku yang kedua : Fifi. Pohon ketiga, juga mangga Kanrejawa : milik akak laki-laki ku satu-satunya : Arianto Arif, dipanggil Anto. namun kini jadi Aco. Aku sebenarnya punya satu lagi kakak laki-laki, namun meninggal tidak lama setelah lahir, namanya Yudi Arlan. Lantas pohon mangga di depan rumah, Banyakpapan, adalah mangga yang paling tidak enak rasanya, menjadi milik kakakku, Nesia Andriana, dipanggil Nes. Walau buahnya jarang di makan, namun pohon ini tetap punya jasa sebagai akses menuju tempat persembunyian kami di atas loteng, dan menuju pekarangan belakang. Dan terakhir pohon yang paling kecil, Arumanis adalah milikku. Tidak banyak cerita tentang pohon milikku, karena keburu pindah sebelum sempat menikmati buahnya yang paling enak diantara pohon mangga lainnya.
Belakangan aku baru mengetahui 3 pohon mangga di halaman belakang, telah ditanam entah oleh siapa, sebelum Bapa, Mama, Kak Ita, Kak Fifi, dan Kak Anto pindah ke rumah ini. Siapa pun dia, kami sekeluarga ingin mengucapkan banyak terima kasih atas jasanya menanam pohon-pohon itu. Sedangkan dua pohon mangga di depan rumah ditanam oleh salah satu, Bapak atau Mama. Keduanya sudah tidak ingat lagi. Begitu otakku sudah mulai merekam peristiwa, gambar, bunyi dan suara, tiga pohon Mangga di pekarangan belakang sudah sangat besar. Sangking besarnya, kami bisa bermain-main di atas pohon, bahkan bisa tidur-tiduran.
Rasanya, pohon-pohon mangga itu, telah lama menghilang dari kehidupan kami. Entah seperti apa mereka sekarang. Yang pasti mangga Kanrejawa dan Golek sudah semakin renta. Mungkin Arumanis sudah berkali-kali menghasilkan mangga-mangga yang sangat manis. Mereka tetap saja tersimpan di memori kami, bekas penghuni rumah itu. Dulu kami berlomba-lomba berteriak ”Cop!”--yang mungkin bisa diartikan ”milikku!”--setiap kami mendengar bunyi mangga jatuh : Dug. Siapa yang lebih dulu berteriak "cop", maka mangga yang jatuh menjadi miliknya. Tidak jarang, mangga yang jatuh ternyata tinggal setengah dagingnya, setengah lagi menjadi hak kelelawar. Bagaimanapun mekanisme kepemilikan itu, berjalan berdasarkan kecepatan menyebut ”cop”, namun tetap saja, mangga itu dimakan bersama-sama. Hanya saja bagian terenak yakni Pallo’ (biji) menjadi hak si pemilik. Beberapa kali pohon-pohon mangga itu menjadi jalan keluar untuk Mama’ pada saat uang belanja yang diberikan Bapa’ sudah tidak ada. Ia menjadi lauk utama, menemani nasi yang saat itu sendirian.
Ada perasaan rindu, terlibat dalam proses pengambilan mangga. Ada sensasi sendiri, saat manjat ke atas pohon dan memetik sendiri mangga, atau menggunakan jolo'. Kadang, kami berebut meraih mangga jatuh, pada saat mekanisme ”cop” sedang tidak berlaku. Mangga kini begitu mudah kami dapatkan. Di depan rumah, pada saat musim arumanis seperti sekarang, tiap hari lewat penjual mangga dengan gerobaknya yang khas, tinggal beli, kupas selesai. Atau di supermarket, dengan mudah kami bisa membeli.
Terimakasih Golek, Kanrejawa, Banyakpapan, dan Arumanis. Terimakasih untuk buahmu, terimakasih memberi akses kami naik ke loteng. Dan terimakasih untuk arumanis yang memberiku rasa bangga memiliki pohon mangga terbaik di rumah kami, walau belum sempat kau beri aku buahmu
Jatibening, Desember 2006
Sesuai urutan umur kami bersaudara, Pohon terbesar, yakni mangga Kanrejawa, tanpa perjanjian di atas materai dan tanpa pertengkaran, menjadi milik kakak-ku yang tertua : Anita Syafitri. Konon, Mangga ini menjadi milliknya karena Ia sangat suka dengan karakter dahannya yang mudah untuk dipanjati. Beberapakali Aku menemukan dia sedang membaca di atas pohon. Ia dan Fifi Angraini kakakku, adalah anggota keluarga kami yang cukup mahir memanjat, walaupun memang pernah tragedi menimpa Kak Ita (panggilan Anita Syafitri), sukses memanjat pohon, namun tidak bisa turun.
Pohon kedua, yakni pohon mangga Kanrejawa, milik kakak-ku yang kedua : Fifi. Pohon ketiga, juga mangga Kanrejawa : milik akak laki-laki ku satu-satunya : Arianto Arif, dipanggil Anto. namun kini jadi Aco. Aku sebenarnya punya satu lagi kakak laki-laki, namun meninggal tidak lama setelah lahir, namanya Yudi Arlan. Lantas pohon mangga di depan rumah, Banyakpapan, adalah mangga yang paling tidak enak rasanya, menjadi milik kakakku, Nesia Andriana, dipanggil Nes. Walau buahnya jarang di makan, namun pohon ini tetap punya jasa sebagai akses menuju tempat persembunyian kami di atas loteng, dan menuju pekarangan belakang. Dan terakhir pohon yang paling kecil, Arumanis adalah milikku. Tidak banyak cerita tentang pohon milikku, karena keburu pindah sebelum sempat menikmati buahnya yang paling enak diantara pohon mangga lainnya.
Belakangan aku baru mengetahui 3 pohon mangga di halaman belakang, telah ditanam entah oleh siapa, sebelum Bapa, Mama, Kak Ita, Kak Fifi, dan Kak Anto pindah ke rumah ini. Siapa pun dia, kami sekeluarga ingin mengucapkan banyak terima kasih atas jasanya menanam pohon-pohon itu. Sedangkan dua pohon mangga di depan rumah ditanam oleh salah satu, Bapak atau Mama. Keduanya sudah tidak ingat lagi. Begitu otakku sudah mulai merekam peristiwa, gambar, bunyi dan suara, tiga pohon Mangga di pekarangan belakang sudah sangat besar. Sangking besarnya, kami bisa bermain-main di atas pohon, bahkan bisa tidur-tiduran.
Rasanya, pohon-pohon mangga itu, telah lama menghilang dari kehidupan kami. Entah seperti apa mereka sekarang. Yang pasti mangga Kanrejawa dan Golek sudah semakin renta. Mungkin Arumanis sudah berkali-kali menghasilkan mangga-mangga yang sangat manis. Mereka tetap saja tersimpan di memori kami, bekas penghuni rumah itu. Dulu kami berlomba-lomba berteriak ”Cop!”--yang mungkin bisa diartikan ”milikku!”--setiap kami mendengar bunyi mangga jatuh : Dug. Siapa yang lebih dulu berteriak "cop", maka mangga yang jatuh menjadi miliknya. Tidak jarang, mangga yang jatuh ternyata tinggal setengah dagingnya, setengah lagi menjadi hak kelelawar. Bagaimanapun mekanisme kepemilikan itu, berjalan berdasarkan kecepatan menyebut ”cop”, namun tetap saja, mangga itu dimakan bersama-sama. Hanya saja bagian terenak yakni Pallo’ (biji) menjadi hak si pemilik. Beberapa kali pohon-pohon mangga itu menjadi jalan keluar untuk Mama’ pada saat uang belanja yang diberikan Bapa’ sudah tidak ada. Ia menjadi lauk utama, menemani nasi yang saat itu sendirian.
Ada perasaan rindu, terlibat dalam proses pengambilan mangga. Ada sensasi sendiri, saat manjat ke atas pohon dan memetik sendiri mangga, atau menggunakan jolo'. Kadang, kami berebut meraih mangga jatuh, pada saat mekanisme ”cop” sedang tidak berlaku. Mangga kini begitu mudah kami dapatkan. Di depan rumah, pada saat musim arumanis seperti sekarang, tiap hari lewat penjual mangga dengan gerobaknya yang khas, tinggal beli, kupas selesai. Atau di supermarket, dengan mudah kami bisa membeli.
Terimakasih Golek, Kanrejawa, Banyakpapan, dan Arumanis. Terimakasih untuk buahmu, terimakasih memberi akses kami naik ke loteng. Dan terimakasih untuk arumanis yang memberiku rasa bangga memiliki pohon mangga terbaik di rumah kami, walau belum sempat kau beri aku buahmu
Jatibening, Desember 2006
0 comments:
Post a Comment