Tuesday, December 5, 2006

Kami dan Pohon Mangga


Dahulu kala, kami tinggal di sebuah rumah dinas yang tidak terlalu besar, namun punya halaman yang sangat luas. Di depannya ada dua pohon mangga, jenis Arumanis, persis di depan kamar tidur Mama’ dan Bapa’. Dan satu lagi mangga Banyakpapan. Sedangkan di halaman belakang, ada 3 pohon mangga yang besar-besar. Ada Mangga Kanrejawa dan Golek. Kanrajewa berarti kue dalam bahasa Makassar.Bentuknya bulat seperti bentuk mangga pada umumnya. Seorang pelatih tennis yang sering jadi langganan ibu-ibu kompleks membersihkan pekarangan atau mengangkat barang-barang, Dullah namanya, enggan menyebutnya Kanrejawa, melainkan mangga kue. Golek, bukan bahasa Makassar maupun Bugis. Mungkin, karena ibu Mama’ku berasal dari Surabaya, mangga itu dinamakan golek, yang berarti boneka, sesuai bentuknya yang memanjang. Belakangan baru saya ketahui, Golek ternyata sudah menjadi nama nasional, bukan pemberian nama oleh Mama' ku.

Sesuai urutan umur kami bersaudara, Pohon terbesar, yakni mangga Kanrejawa, tanpa perjanjian di atas materai dan tanpa pertengkaran, menjadi milik kakak-ku yang tertua : Anita Syafitri. Konon, Mangga ini menjadi milliknya karena Ia sangat suka dengan karakter dahannya yang mudah untuk dipanjati. Beberapakali Aku menemukan dia sedang membaca di atas pohon. Ia dan Fifi Angraini kakakku, adalah anggota keluarga kami yang cukup mahir memanjat, walaupun memang pernah tragedi menimpa Kak Ita (panggilan Anita Syafitri), sukses memanjat pohon, namun tidak bisa turun.

Pohon kedua, yakni pohon mangga Kanrejawa, milik kakak-ku yang kedua : Fifi. Pohon ketiga, juga mangga Kanrejawa : milik akak laki-laki ku satu-satunya : Arianto Arif, dipanggil Anto. namun kini jadi Aco. Aku sebenarnya punya satu lagi kakak laki-laki, namun meninggal tidak lama setelah lahir, namanya Yudi Arlan. Lantas pohon mangga di depan rumah, Banyakpapan, adalah mangga yang paling tidak enak rasanya, menjadi milik kakakku, Nesia Andriana, dipanggil Nes. Walau buahnya jarang di makan, namun pohon ini tetap punya jasa sebagai akses menuju tempat persembunyian kami di atas loteng, dan menuju pekarangan belakang. Dan terakhir pohon yang paling kecil, Arumanis adalah milikku. Tidak banyak cerita tentang pohon milikku, karena keburu pindah sebelum sempat menikmati buahnya yang paling enak diantara pohon mangga lainnya.

Belakangan aku baru mengetahui 3 pohon mangga di halaman belakang, telah ditanam entah oleh siapa, sebelum Bapa, Mama, Kak Ita, Kak Fifi, dan Kak Anto pindah ke rumah ini. Siapa pun dia, kami sekeluarga ingin mengucapkan banyak terima kasih atas jasanya menanam pohon-pohon itu. Sedangkan dua pohon mangga di depan rumah ditanam oleh salah satu, Bapak atau Mama. Keduanya sudah tidak ingat lagi. Begitu otakku sudah mulai merekam peristiwa, gambar, bunyi dan suara, tiga pohon Mangga di pekarangan belakang sudah sangat besar. Sangking besarnya, kami bisa bermain-main di atas pohon, bahkan bisa tidur-tiduran.

Rasanya, pohon-pohon mangga itu, telah lama menghilang dari kehidupan kami. Entah seperti apa mereka sekarang. Yang pasti mangga Kanrejawa dan Golek sudah semakin renta. Mungkin Arumanis sudah berkali-kali menghasilkan mangga-mangga yang sangat manis. Mereka tetap saja tersimpan di memori kami, bekas penghuni rumah itu. Dulu kami berlomba-lomba berteriak ”Cop!”--yang mungkin bisa diartikan ”milikku!”--setiap kami mendengar bunyi mangga jatuh : Dug. Siapa yang lebih dulu berteriak "cop", maka mangga yang jatuh menjadi miliknya. Tidak jarang, mangga yang jatuh ternyata tinggal setengah dagingnya, setengah lagi menjadi hak kelelawar. Bagaimanapun mekanisme kepemilikan itu, berjalan berdasarkan kecepatan menyebut ”cop”, namun tetap saja, mangga itu dimakan bersama-sama. Hanya saja bagian terenak yakni Pallo’ (biji) menjadi hak si pemilik. Beberapa kali pohon-pohon mangga itu menjadi jalan keluar untuk Mama’ pada saat uang belanja yang diberikan Bapa’ sudah tidak ada. Ia menjadi lauk utama, menemani nasi yang saat itu sendirian.

Ada perasaan rindu, terlibat dalam proses pengambilan mangga. Ada sensasi sendiri, saat manjat ke atas pohon dan memetik sendiri mangga, atau menggunakan jolo'. Kadang, kami berebut meraih mangga jatuh, pada saat mekanisme ”cop” sedang tidak berlaku. Mangga kini begitu mudah kami dapatkan. Di depan rumah, pada saat musim arumanis seperti sekarang, tiap hari lewat penjual mangga dengan gerobaknya yang khas, tinggal beli, kupas selesai. Atau di supermarket, dengan mudah kami bisa membeli.

Terimakasih Golek, Kanrejawa, Banyakpapan, dan Arumanis. Terimakasih untuk buahmu, terimakasih memberi akses kami naik ke loteng. Dan terimakasih untuk arumanis yang memberiku rasa bangga memiliki pohon mangga terbaik di rumah kami, walau belum sempat kau beri aku buahmu

Jatibening, Desember 2006

Monday, December 4, 2006

810

Aku masih di rumah saat itu. Masih satu jam lagi, sebelum berangkat ke kantor. Namun ponselku berbunyi, nampak nomer G di ponselku.

Taruna Kang?”
(Taruna adalah bahasa sandi polisi yang berarti informasi)
Merapat ke Polsek.....ada yang mau kita 810!”
Oke Kang!”

Ini pengalaman pertamaku di bagian kriminal, diajak untuk meliput eksekusi mati seorang penjahat. 810 adalah kode polisi yang berarti mati. Tidak hanya untuk manusia, jika baterai handy talky mereka habis, mereka juga akan mengatakan 810.
Buru-buru aku bersiap ke kantor, tidak lupa menelefon kamerewan yang dipasangkan denganku malam itu

Halo bos, bisa datang cepat? Ada taruna di Tangerang, harus nyampe jam 9 disana
Oke, gak masalah, ketemu di logistik aja ya

***

Jam 9 kurang 5 menit kami tiba di polsek itu. G sedang duduk di halaman. Atasan G, GH, berpangkat Inspektur Dua, sedang mempersiapkan pistol revolvernya.

Kang, siapa ni yang mau di 810?” tanyaku kepada G
Rampok. 3 hari lalu rampok motor. Pemiliknya tewas, ia tebas pake celurit. Ini bukan yang pertama. Mending di 810 aja lah” jawab GH mendahului G.
Boleh ketemu gak?”
”Tuh di sel. Tapi jangan diambil gambarnya ya, ngobrol-ngobrol aja
.”
Oke ces” (Ces adalah panggilan akrab sesama teman di Makassar)

***

Tidak ada yang bisa membuat orang takut. Perawakannya kurus, dan wajah yang nampak lugu. Satu-satunya yang bisa mewakili perilakunya adalah tato di lengan sebelah kanan. Aku tak bisa dengan jelas melihat gambar tatonya. Sel tanpa lampu. Hanya terbantu oleh cahaya dari teras belakang Polsek. Ia nampak tidak berdaya. Aku sempat tidak percaya, bahwa yang di depanku adalah seorang perampok berdarah dingin, yang tidak segan-segan menebas leher orang dengan cerulit atau golok.
Ada perasaan aneh di dalam diriku. Pengetahuan tentang kematian. Ini pertama kalinya, aku bisa mengetahui manusia yang akan mati tidak lama lagi. Kematian adalah rahasia langit, yang hanya diketahui oleh Penciptanya. Aku berhadapan dengan kematian yang menjelang, kematian yang tidak ’prosedural’. Kematian yang diciptakan oleh manusia yang juga tidak pernah tahu kapan Ia mati.

Abang kapan tertangkap?”
Ia hanya terdiam
Eee...Abang nyesel gak sudah membunuh orang?”
Iya” jawabnya pelan
Abang punya anak istri?”
Iya kembali mengangguk pelan.

Perlahan ia nampak berusaha berganti posisi. Tapi tiap gerakannya disertai suara meringis, dan mimik muka pesakitan. Betis sebelah kirinya ada perban. Di sekitarnya nampak darah yang baru mengering. Luka tembakan buser tadi sore, tembus mengenai tulang.
Ingin sebenarnya mengobrol lebih lama, namun rasanya aku kehilangan selera.

***

Iring-iringan mobil kami menuju sebuah tempat gelap dan sepi. Aku tegang.
Kami pun turun. GH menghampiri kami. Ia nampak gagah, sekaligus nampak seperti aktor-aktor di film-film cowboy. Di sampingnya, 5 buser telah siap dengan laras panjang SS1 dan pistol jenis revolver.
Persis seperti sutradara, ia mengarahkan pengambilan gambar.

Kameramen nanti berdiri dibelakang. Nanti kita pura-pura lari, sambil menembak ke atas.Nah lu juga lari, sambil ngambil gambar, biar seperti kita sedang mengejar penjahat. Oke bos?” kata GH bak malaikat penjabut nyawa
Siap!” kata para kameramen, persis seperti anak buah kepada komandannya

Si perampokpun digiring ke depan. Borgolnya dilepas. Ia berjalan tertatih-tatih menahan sakit menembus tulang.
Dalam hitungan detik, drama itupun bergerak cepat.

Dor....Dor...Dor...

Bising letusan memekakkan telinga, merusak malam yang dingin dan damai.
Seonggok tubuh kurus tergelatak. Sebuah lubang nampak tepat di dadanya. Nyawanya tinggal setengah. Malaikat pencabut nyawa tengah menjalankan tugasnya, bersamaan dengan bunyi dengkurnya, yang perlahan menghilang bersama malam yang kembali sepi.
Sebuah lagu Billie Holiday, ”Body and Soul” mengalun pelan, menutup kisah getir malam itu.

***
Pukul 12.35 siang, di depan sebuah warung mi rebus, beberapa tukang ojek nampak serius menonton program berita kriminal.
Sepenggal berita berbunyi : ”Seorang perampok berdarah dingin, minggu malam, di Tangerang, tewas diterjang peluru polisi, saat berusaha lari....”
(berdasarkan kisah nyata)
Dio, Tangerang, 2003

Sunday, December 3, 2006

Dari Sebuah Restoran

Kumasukkan sesendok nasi terkahir ke dalam mulutku, menutupi sisa ruang di dalam perutku. Mulai dari segelas orange juice yang lucu, donat yang tidak berdosa, semangkok sereal yang tak berdaya, lalu beralih ke hidangan utama nasi goreng yang pasrah, lengkap dengan sosis, ayam, dan sebuah telur ceplok setengah matang yang nampak lugu, tanpa ampun, kulumat dan kuhabiskan tanpa basa-basi. Sebuah buku tebal berjudul Transpolitika, karya Yasraf A. Piliang, tergeletak, terlupakan, dikalahkan oleh aroma dan wujud makanan di atas meja.

Saat tanganku mulai bergerak menyentuh buku di atas meja, mendadak niatan itu batal oleh sebuah pemandangan biasa. Kembali sang buku terasing. Seorang lelaki makmur, perut buncit, dan terlihat sangat kaya duduk di depan meja saya. Wajahnya nampak berseri-seri. Dua buah ponsel jenis PDA dan communicator Ia letakkan di samping piringnya. Mungkin ia 5o tahunan. Di depannya duduk perempuan muda, dengan bercelana pendek ketat, baju ketat tanpa lengan. Ia dianugrahi tubuh yang besar di bagian yang seharusnya besar, dan ramping di bagian yang seharusnya ramping. Modis, mahal, dan sekaligus menor oleh lipstik merah menyala, kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Mungkin Ia 2o tahun. Tidak jelek, namun tidak juga luar biasa. Otakku yang sedang iseng akibat kekenyangan, lalu mengembara, menganalisa dua mahluk di depanku. Siapa dua orang ini? Suami istri? kayaknya aku ragu. Tapi kalo selingkuh, kenapa berani di tempat umum seperti ini?

Pikiranku kembali mengembara. Video rekaman seorang politisi dan seorang yang konon penyanyi dangdut--yang aku nonton semalam bersama teman-teman--menguasai lamunanku. Politisi itu tanpa sehelai benang pun, dengan perutnya yang buncit, dan si perempuan terbaring siap 'tempur'. Selanjutnya, seperti sebuah filler di paket berita, gambar dua pasang mahluk di depanku berganti dengan cepat dengan gambar video mesum itu, dan berganti lagi, lalu berganti lagi tiap dua detik.

Lamunan liar itu, mendadak terhenti, saat terasa sebuah tangan menyentuh bahuku sebelah kiri. "Ke atas yuk, sudah jam 9..."

"Duluan deh, gue makan buah dulu..."

Hotel Santika, 3 November 2006